sponsor

sponsor

Slider

Theme images by kelvinjay. Powered by Blogger.

Recent Tube

Politik

Pemerintahan

Korupsi

Pilkada

Oposisi

Pemilihan Legislatif

» » » Mencalegkan Menteri merupakan Kegagalan Parpol?


Media Politik Nasional - Jakarta: Sejumlah Partai Politik (parpol) rela mengusung menteri untuk bertarung di Pileg 2019. Hal itu dianggap sebagai bukti parpol gagal dalam mendistribusikan kadernya.

"Kalau parpol memiliki distribusi kader yang baik, maka seharusnya mereka akan membiarkan kadernya yang di posisi eksekutif tersebut untuk menuntaskan kerja dan tugasnya dalam tata kelola pemerintahan," kata Direktur Eksekutif Perludem Titi Angraini kepada Media Indonesia, Senin, 23 Juli 2018.

Dengan mencalonkan menteri menunjukkan bahwa parpol tidak sepenuhnya mendistribusikan kader dan memiliki keterbatasan kader, hanya untuk kepentingan pemilu. Para menteri yang dicalonkan pun tidak akan bekerja secara optimal sesuai dengan tupoksinya. Karena ketika mereka menjadi caleg mereka dibebani kerja pemenangan pemilu.

Dengan mencalonkan menteri sebagai caleg juga menunjukkan bahwa parpol khawatir menghadapi kontestasi pemilu 2019, karena dipandang akan sangat sengit dan kompetitif. Pemberlakuan ambang batas parlemen yang naik dari 3,5% menjadi 4% juga mengubah konfigurasi politik.

Sebab berdasarkan sejumlah survei ada beberapa parpol menengah yang memang disinyalir tidak lolos ambang batas parlemen.

Begitu juga pemberlakuan metode konversi suara yang berupaya memproposionalkan perolehan suara dengan kursi menjadikan parpol khawatir dan berkepentingan untuk memastikan perolehan suara mereka di pemilu nanti. Oleh sebab itu menteri sebagai kader parpol dipandang memiliki popularitas dan memberikan insentif dalam perolehan suara.

"Pencalonan menteri itu dilandasi pendekatan pragmatis untuk memenangi pemilu karena partai tidak lolos ambang batas parlemen akan menjadi pukulan berat bagi partai politik," terangnya.

Menteri menteri menjadi salah satu lumbung suara yang parpol andalkan. "Karena menteri tentu punya popularitas dan elektabilitas yang baik dibandingkan dengan kader-kader organik partai lainnya," terang Titi.

Padahal menurut Titi, idealnya kader-kader yang didistribusikan menjadi menteri harus mendedikasikan kerjanya sebagai menteri. Parpol seharusnya mampu membuktikan kepada publik mereka merupakan institusi sumber kaderisasi dan rekrutmen politik dan tidak memiliki hambatan dalam menghadapi pemilu.

Oleh karena itu Titi sangat mengapresiasi bagi partai yang tidak menarik menterinya sebagai caleg. Sebab hal itu menunjukkan partai tersebut memiliki konsep kaderisasi yang jelas. Parpol tersebut mampu mengatur distribusi kadernya sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

"Itu yang selayaknya dilakukan. Sebab partai itu hadir untuk mengisi ruang rekrutmen politik dan memperjuangan ideologi yang dibawa partai. Partai yang menjadikan menterinya sebagai caleg menunjukkan partai tersebut tidak memiliki konsep kaderisasi dan rekrurtmen politik," jelas Titi.

Sumber Metrotvnews

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply